Setiap orang memiliki cara dan langkah-langkah tersendiri dalam menulis cerpen. Hal tersebut dinamakan dengan proses kreatif. Bahkan para penulis profesional pun memiliki proses kreatif yang berbeda satu sama lain. Hal tersebut menandakan bahwa dalam menulis cerpen, banyak proses yang dapat dipilih. Hal terpenting adalah bahwa proses kreatif tersebut menunjang seseorang dalam menciptakan karya sebaik mungkin.
Namun demikian, terdapat langkah-langkah menulis cerpen yang pada umumnya dimiliki setiap penulis profesional. Langkah-langkah tersebut perlu diperhatikan para penulis pemula atau seseorang yang ingin hendak menulis cerpen. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Menetapkan Niat dan Motivasi
Seperti halnya memulai suatu aktivitas, sebelum menulis cerpen harus disiapkan niat yang kuat dan motivasi yang mantap. Dengan niat yang kuat, maka kesulitan dalam menulis tidak akan menjadi hambatan atau membuat putus asa. Bagi pemula, niat yang kuat perlu dimiliki agar menyadari bahwa menulis cerpen itu tidak sesulit yang dibayangkan namun tidak semudah membalik telapak tangan. Artinya, bahwa menulis itu mudah, namun pada prosesnya akan ditemui banyak kesulitan. Maka, hambatan tersebut tidak akan menyurutkan pemula untuk terus mencoba.
Banyak motif yang dimiliki seseorang saat menulis cerpen, misalnya untuk kepentingan akademik (tugas sekolah), hobi semata, prestise atau materi (penulis), dan lain-lain. Namun, apa pun bentuk motifnya diperlukan motivasi yang mantap agar cerpen yang dibuat tidak sekadar tulisan hambar yang tidak seorang pun minat membacanya.
2. Menentukan Tema
Setelah memantapkan niat, saatnya kita menulis. Hal yang pertama kali dilakukan adalah menentukan tema cerpen yang akan dibuat. Tema adalah ide yang mendasari sebuah cerita. Tema biasanya datang karena inspirasi. Inspirasi muncul karena tersedia pengetahuan dan pengalaman di dalam pikiran atau otak. Oleh karena itu, inspirasi muncul dari kejadian (peristiwa) yang dialami atau wawasan pengetahuan yang luas.
Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup, baik yang terjadi sehari-hari atau tersimpan di dalam memori karena terjadi di masa lalu. Pengalaman bukan berarti kejadian yang dialami diri sendiri saja, melainkan kejadian atau peristiwa hidup yang dialami orang lain yang kita lihat dan dengar. Selain itu, wawasan yang luas diperoleh dengan cara mencarinya di lingkungan sekitar kita, termasuk membaca. Membaca beragam jenis bacaan dapat membuat kita kaya akan pengetahuan. Salah satu bacaan penting yang harus dibaca penulis pemula adalah cerpen karangan penulis profesional agar dapat melihat aspek-aspek penting yang menarik di dalamnya. Kedua aspek tersebut (pengalaman dan wawasan) merupakan sumber inspirasi yang membuat kita mendapatkan tema cerpen dengan mudah.
Tema yang baik adalah tema yang menarik untuk dibaca dan memberikan kesan tersendiri bagi pembaca, seperti menyenangkan, mengharukan, menyedihkan, dan perasaan lainnya. Tema memang dapat diambil berdasarkan kejadian sehari-hari, namun bukan merupakan kejadian yang secara rutin terjadi setiap hari, seperti jatuh cinta, kecelakaan, kematian, pertengkaran, dan lain-lain.
3. Menentukan Sasaran Pembaca
Setelah menentukan tema, perlu ditentukan pula sasaran pembaca dari cerpen yang akan dibuat. Hal ini berkaitan dengan gaya bahasa dan cerita yang akan digunakan dalam cerpen yang dibuat. Berdasarkan batasan usianya, sasaran pembaca cerpen adalah anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, dan lain sebagainya. Ada pula sasaran pembaca yang dibedakan menurut gender (perempuan dan laki-laki), agama, dan lain-lain. Namun demikian, ada pula cerpen yang ditulis untuk pembaca umum tanpa batasan usia dan gender.
Pembedaan sasaran pembaca disebabkan karena setiap cerpen memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya, cerpen untuk anak-anak memiliki karakteristik tersendiri, yaitu mengandung unsur moral dan pendidikan yang kuat dan tertulis secara eksplisit. Berbeda dengan cerpen untuk pembaca dewasa biasanya pesan moral yang dikandung tidak ditulis secara eksplisit agar tidak terkesan menggurui. Cerpen remaja biasanya memiliki tema-tema dengan kehidupan ala remaja, seperti yang biasa terlihat dalam cerita teenlit atau cerita khas remaja perkotaan dengan segala pergaulannya. Berbeda dengan cerpen religius yang biasanya dipenuhi dengan pesan-pesan keagamaan.
4. Mulai Menulis
Setelah menentukan tema dan sasaran pembaca, saatnya menulis. Proses inilah yang menuntut ketekunan dan kecermatan. Pada prosesnya, kita dituntut untuk dapat mengembangkan imajinasi yang dirangkai melalui kata-kata. Pada saat menulis, kita harus telah menyiapkan kerangka pembangun cerpen yang akan ditulis. Kerangka pembangun tersebut biasa disebut dengan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
Unsur intrinsik cerpen yang perlu diperhatikan adalah adanya tokoh dengan beragam karakter penokohannya, adanya alur, sudut pandang yang digunakan penulis, dan lain sebagainya. Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen akan dibahas pada poin berikutnya.
Karena merupakan karya sastra fiksi maka cerpen bersifat fiktif atau berdasarkan khayalan semata. Maka, penulis cerpen dituntut untuk dapat mengolah imajinasinya agar cerpen yang dibuat terasa hidup dan terjadi di kehidupan nyata. Namun demikian, fiksi bukan berarti cerpen tidak dapat diambil dari kisah nyata. Banyak cerpen yang ditulis berdasarkan kisah nyata, namun pada pengolahannya tetap tidak sepenuhnya sama dengan kehidupan nyata, bahkan dibumbui unsur imajinasi.
5. Membaca Kembali dan Merevisi jika Terdapat Kekurangan
Setelah selesai menulis, cerpen yang telah dibuat harus dibaca kembali. Hal tersebut berguna untuk menyunting (editing) sederhana tulisan yang telah dibuat. Menyunting cerpen yang telah dibuat terdiri atas pengecekan penulisan (mungkin terdapat salah penulisan atau pengetikan), ejaan, atau isi secara keseluruhan. Setelah menyunting, maka cerpen tersebut perlu direvisi jika masih terdapat kekurangan. Hal tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang hingga menghasilkan cerpen yang mendekati sempurna.
6. Memublikasikan Cerpen
Apabila cerpen telah selesai dibuat dan direvisi, maka hal terakhir yang perlu dilakukan adalah memublikasikan cerpen tersebut kepada orang lain. Karya yang baik adalah karya yang mendapat apresiasi dari pembaca, baik berupa pujian atau kritik. Selain itu, dengan memublikasikan cerpen, maka kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan cerpen yang kita buat untuk diperbaiki atau ditingkatkan di kemudian hari.